Toko Layangan ‘Rudy’ di Gang Sereh

4

Istilah “alay” __kependekan dari “anak layangan”, dengan konotasi miring terhadap ‘gaya’ penampilan tertentu pada sebagian remaja masa kini__ sebetulnya agak mengherankan. Bukan ‘gaya’ penampilan tersebut yang mengherankan, tetapi pada apa dan bagaimana kaitan gaya ini dengan layangan atau ‘layang-layang’?

1Terus terang, bermain layang-layang bukan hal mudah. Prosesnya dimulai dari keahlian memilih-milah layang-layang baru di tempat penjualnya dengan cara melakukan uji “kélépék”: mengibaskan layangan sebagai pengujian integritas dan elastisitas struktur layang-layang. Kemudian diperlukan pula keahlian memasang serta tuning tali ‘timba’ atau ‘tumbu’ untuk mencari titik seimbang layang-layang. Diakhiri dengan “palincang”; kalibrasi dengan uji terbang rendah untuk memperoleh kendali terbaik. Semua hal tadi, belum sampai memasuki proses ‘penerbangan’ yang butuh lebih banyak keahlian serta jam terbang. Belum lagi kemampuan padu-padan berbagai jenis serta nomor gelasan untuk ukuran layang-layang tertentu beserta gaya bermain untuk layang-layang adu.

5“Alay” Bandung era 80′an pasti akrab dengan beberapa toko penjual kelengkapan bermain layang-layang yang terkemuka di masanya yang antara lain berlokasi di Jalan Bahureksa, Jalan Pajajaran, dan yang masih tersisa hingga hari ini di kawasan Jalan Astana Anyar, tepatnya di dalam Gang Sereh. Di Gang Sereh terdapat beberapa penjual khusus kelengkapan permainan layang-layang, yaitu toko “Akiat” yang sore itu sudah tutup dan satu toko lain dengan plang nama kecil “Rudy”. Toko “Rudy” lebih dulu dijumpai ketika memasuki Gang Sereh, terletak di sisi kanan dengan alamat bernomor 2A, sementara toko “Akiat” akan dijumpai setelah berbelok ke kiri di ujung pertigaan memasuki Gang Sereh.

3Toko “Rudy” menyusun aneka benang dan gelasan dengan kelosan (gulungan) kecil pada etalase muka. Rak-rak bagian dalam digunakan untuk menyusun aneka benang ‘kenur’ atau senar dari nilon yang sudah tergulung pada kelosan besar. Bagian atas rak dan langit-langit digunakan untuk meletakkan stok layang-layang.

2Harga gelasan tergantung kualitas, ukuran panjang dan jenis bahan. Gelasan bahan nilon lebih banyak mendominasi sementara yang berbahan benang sudah sedikit saja tersedia. Ukuran gelasan berbahan benang masa lalu seperti nomor 8, 12 atau 24 tidak dijumpai. Jenis gelasan bahan benang yang tersedia hanyalah jenis ‘serit’ atau ‘mambo’ yang kurang tahan air. Harga aneka benang senar dan gelasan ini mulai dari Rp.5.000,-, belasan ribu hingga puluhan ribu rupiah untuk gelasan kualitas terbaik. Layang-layang yang tersedia hanya jenis adu dengan dua ukuran. Ukuran kecil biasa dijual dengan harga kurang dari Rp.1.000,- hingga Rp.1.500,-, tergantung kualitas hiasan grafis yang umumnya pulasan manual atau sablon. Ukuran yang lebih besar dengan tinggi 70cm, dijual seharga Rp.3.000,-, dihiasi grafis menarik dengan cetakan sistem offset ‘fullcolour’ sebelum proses perakitan layang-layang. Tersedia pula layang-layang hias berbentuk burung yang terbuat dari kain dengan stok terbatas seharga Rp.40.000,-. Produk-produk kelengkapan permainan layang-layang yang tersedia ini, umumnya buatan luar kota Bandung dan toko hanya sebagai penjual kembali, bukan produsen.

1Tertarik mengunjungi toko ini? Lihat lokasinya di peta di bawah. Selain dapat menghidupkan kembali jiwa bermain dalam diri pria dewasa dan tentunya anak-anak lelaki lewat permainan layang-layang, tampaknya toko-toko di Gang Sereh ini juga melayani penjualan sistem grosir dengan harga khusus sehingga dapat saja memberikan keuntungan bagi mereka yang punya ide wirausaha.


View Warisanbandung_tokokhusus in a larger map

Tagged with: , ,
Posted in blog, Toko Khusus

Soto Sapi ‘Ento’ – Braga

soban

soban2Soto ‘gagrak’ Bandung __dengan kuah kaldu bening berisi potongan daging sapi lebih besar sedikit dari ukuran dadu, potongan lobak serta taburan kacang kedelai goreng__  tentu tidak perlu dijajakan dengan ‘branding’ kotanya sebagai “Soto Bandung” apabila dijual di kota Bandung sendiri, sebagaimana halnya penjual soto ayam di Semarang atau sop kaki sapi di Jakarta. Ini pula yang dilakukan oleh kedai “Soto Pak Ento”, penjual soto daging sapi yang sudah lama melayani pelanggannya di bilangan Jalan Braga.

Untuk mencapai lokasi tepatnya, pelanggan harus memasuki sebuah gang tepat di seberang “Landmark Building” di Jalan Braga. “Landmark Building” sendiri umum dikenal oleh masyarakat Bandung sebagai lokasi pameran berbagai rupa produk dan jasa. Begitu memasuki gang tersebut, plang penunjuk akan segera terlihat pada bagian ujung gang yang akan mengarahkan pengunjung sedikit berbelok ke arah kiri untuk mencapai kedai soto. Kedainya sederhana namun bersih, berukuran kira-kira 4 x 3 meter dengan meja hidang yang menempel di sepanjang sisi dinding berlapis keramik. Suasana kedai masih sepi ketika penulis datang hampir pukul 11 siang dan membeli beberapa porsi soto yang dibungkus untuk nanti dinikmati sebagai makan siang di tempat bekerja.

sobanSoto tampil sederhana ketika dihidangkan. Kuah kaldu bening dengan taburan bawang goreng, menampakkan porsi daging yang cukup ‘royal’, hanya saja potongan lobak tidak sebanyak biasanya. Taburan kedelai goreng yang dibungkus terpisah, dapat ditambahkan sesuai selera. Demikian pula untuk kecap, sambal dan jeruk nipis. Walaupun tampak bening, kuah soto ini ‘tebal’ rasa kaldunya namun tanpa menimbulkan rasa ‘nek’. Jejak penyedap instan pun hanya terasa lamat-lamat. Inilah kelebihan soto sapi ‘gagrak’ Bandung. Dengan bumbu yang minimal, kuah kaldunya terasa sangat enak dengan gurih yang pas untuk teman nasi. Daging sapi cukup empuk, walaupun ada satu-dua yang mengandung urat sehingga agak melakukan perlawanan ketika dikunyah. Variasi tekstur kunyahan dan rasa dari potongan lobak dan kedelai goreng menambah kenikmatan. Penambahan ‘condiment’ kecap, sambal dan jeruk akan memberikan sensasi ‘segar’ yang membuat penikmatnya agak sulit berhenti menyuapkan sendok demi sendok nasi beserta soto hingga sampai bulir nasi dan tetes kuah yang paling akhir.

soban3Apabila dinikmati di lokasi kedai, pada meja hidang sudah tersedia aneka lauk pelengkap yang serasi untuk dinikmati bersama soto; perkedel kentang, tempe dan tahu goreng serta telur rebus pindang. Tak dilupakan, kerupuk aci juga tersedia untuk melengkapi kenikmatan pelanggan menyantap soto. Dengan kenikmatan rasa, porsi yang relatif cukup ‘royal’ serta harga daging sapi yang sangat mahal belakangan ini, harga Rp.20.000,- untuk satu porsi soto daging sapi dengan nasi yang dihidangkan terpisah rasanya cukup ‘masuk lidah’.

Tagged with: ,
Posted in blog, Makanan

Toko Buku Maranatha

IMG0020A
IMG0027A

Toko Buku Maranatha, tampak dari luar.

Masa kecil anak-anak Indonesia sampai awal tahun 80′an dan bagi penggemar komik umumnya di Indonesia, tentu akrab dengan komik-komik wayang karya RA Kosasih dengan gaya lukis dan cetakan serta bentuk fisik komiknya yang khas. Kekhasan fisik komik ini antara lain ada pada bagian belakang cover yang dilengkapi dengan daftar judul komik-komik lain yang dapat dibeli lengkap beserta ongkos kirim dari penerbitnya: Toko Buku (TB) Erlina. Saat itu alamatnya masih ditulis sebagai Jl.Ciateul, sehingga anak-anak di luar kota Bandung atau Jawa Barat akan melafalkan dengan “Jalan Ci-ate-yul”.

IMG0020A

Deretan komik di TB Maranatha.

Setelah hampir 30 tahun sejak terakhir mampir ke TB Erlina atau juga dikenal sebagai TB Maranatha, bahkan setelah hampir 5 tahun belakangan selalu rutin melewati Jl.Ciateul yang kini memiliki nama ‘de yure‘ sebagai Jl.Ibu Inggit Ganarsih, hari ini penulis sengaja mampir membeli komik wayang untuk mengenalkan wayang sebagai budaya sendiri kepada anak-anak yang sudah dibanjiri berbagai produk fiksi impor melalui aneka media. Juga komik saduran impor tentunya.

Ruang yang ditempati sekarang sudah jauh mengecil kira-kira sepertiga dari ukurannya semasa jaya dulu di awal tahun 80′an. Bentuk bangunannya yang dulu berupa satu ruang besar, sekarang sudah terbagi tiga bagian seperti ruko. TB Maranatha menempati toko terkecil di bagian paling pinggir dengan alamat Jl.Ibu Inggit Ganarsih nomor 150.

IMG0022A

Komik-komik ‘klasik’ yang kini mulai populer kembali.

Komik-komik dengan tampilan grafis muka yang masih sama seperti dulu, ditata rapi pada rak-rak di kedua sisi dinding toko. Ibu yang melayani tampaknya adalah pemilik toko buku ini, ramah dan senang mengobrol. Komik-komik wayang mendominasi koleksi. Sebagian kecil lainnya adalah komik-komik adaptasi cerita rakyat, cerita superhero fiktif lokal dan … horor! Superhero lokal hanya bersisa “Laba-laba Merah” dan “Sri Dewi”. Tokoh favorit era lalu seperti “Godam”, “Gundala” dan “Pangeran Melar” tidak tampak lagi. Demikian pula novel silat legendaris “Kho Ping Ho”, yang ternyata ketika ditanyakan, sudah tidak lagi mereka miliki hak penerbitnya.

IMG0023A

Gaya komik ‘klasik’: sederhana dan sepenuhnya manual.

Ukuran komik menyusut menjadi kira-kira ukuran A5 terlipat serta cukup tebal, menyatukan beberapa episode cerita sekaligus yang dulunya dicetak dalam ukuran ‘letter’ pada eksemplar-eksemplar terpisah yang lebih tipis. Komik seri “Mahabharata” awal sebelum “Bharatayudha”, kini hanya terdiri dari 4 buku komik saja. Bahan kertas masih sama, menggunakan bahan “kertas koran” atau umum dikenal sebagai “kertas buram”. Pada beberapa seri tersedia edisi koleksi, dicetak pada kertas HVS dengan “hard cover”. Harga komik wayang berseri populer tebal berkisar Rp.45.000,- dan Rp.55.000,- untuk paket berisi dua buku. Untuk edisi koleksi, dengan jumlah yang sama berkisar Rp.95.000,- sampai Rp.110.000,-. Judul-judul yang tersedia untuk seri ini a.l; Mahabharata, Baratayudha, Pandawa Seda dan Ramayana. Untuk seri komik lain yang dijual satuan, dijual antara Rp.10.000,- hingga Rp.20.000,- per buku.

Terus terang terselip rasa kuatir akan kelangsungan keberadaan TB Maranatha ini dan komik wayang lokalnya secara khusus. Di tengah gerusan komik impor dengan tampilan gambar dan variasi cerita yang menarik serta aneka media penampil lainnya, sudah salayaknya anak-anak dan penggemar komik Indonesia lebih mengenal keberadaan komik-komik lokal ini. Khususnya cerita wayang yang merupakan warisan budaya lokal.

 

Tagged with: , ,
Posted in blog, Toko Khusus

Pempek ‘Faisal’

IMG0016B

IMG0016BUmumnya masyarakat Bandung penggemar jajanan, apabila saat ini ditanya tentang makanan khas Palembang, pempek, yang difavoritkan di kota Bandung, jawabannya tidak akan bergeser dari “Pak Raden” atau “Jalan Rama”. Sampai awal tahun 90′an, untuk pertanyaan yang sama, terlebih bagi masyarakat Bandung yang berdomisili di sisi selatan rel kereta api, jawabannya adalah “Faisal”.

 

IMG0015BPempek “Faisal” ini berlokasi di sebuah bangunan lama kecil, sudut antara Jl. Simpang dan Jl.Oto Iskandardinata di perempatan dengan Jl.Kalipah Apo. Tampilan dan gaya ‘signage’nya cukup memperlihatkan bahwa pempek “Faisal” sudah hadir cukup lama. Ruang sajinya sederhana, memanjang dengan meja yang menempel ke dinding kedai. Jenis pempek yang disediakan seperti pada umumnya kedai pempek lain; Kapal Selam, Lenjer, Lenjer yang disaji dengan telur (Lenggang), dan tipe yang ukurannya lebih kecil tanpa isi serta digoreng dari sejak adonan, tanpa dimatangkan rebus terlebih dulu. Harga yang ditawarkan per buahnya; pempek lenggang Rp.12.000,- ; pempek kapal selam Rp.14.000,- ; pempek lenjer Rp.10.000,- dan pempek yang lebih kecil tadi Rp.5.000,-

IMG0019BYang dijagokan adalah pempek kapal selam dan lenggang. Karena menghindari konsumsi telur, jadilah kunjungan ini hanya memesan pempek lenjer dan yang berukuran kecil. Kedua macam pempek tersebut digoreng lagi sebentar, kemudian dipotong-potong dan disajikan bersama sedikit mi, soun serta potongan ketimun kemudian ditaburi bubuk ebi lalu terakhir disiram saus cuka khas untuk pempek. Pempek jenis lenjer tampaknya masih cukup otentik menggunakan dominan tepung sagu dengan kekenyalannya yang khas. Dengan kekenyalan ini, pempek lenjernya memang lebih baik dipesan sebagai “lenggang” yang terlebih dulu dipotong-potong dan digoreng bersama telur. Untuk rasa, gurih ikan sangat kental tapi tidak amis ‘fishy’. Pempek ukuran kecilnya, jenis yang digoreng langsung dari adonan mentah; tekstur dan rasa mengingatkan pada “batagor” namun dengan kekenyalan dan rasa ikan yang lebih kuat. Saos/kuah siramnya istimewa, paling kuat dan ‘lekoh’ di antara pempek lain yang dijual di Bandung. Cenderung lebih manis tetapi kurang masamnya dengan aroma bawang putih yang cukup dominan dan tidak pedas. Sambal disediakan terpisah. Taburan ebi kering bisa diminta lebih andaikata kuah dirasa kurang gurihnya.

Untuk lebih nyamannya, pempek “Faisal” sudah hampir setahun ini juga menempati bangunan yang lebih representatif tepat di seberang. Secara keseluruhan, pempek “Faisal” masih layak berada di papan atas liga pempek kota Bandung.

Tagged with: ,
Posted in blog, Makanan

Toko Kopi ‘Javaco’

IMG_2055

IMG_2055  Toko kopi di Bandung bukan hanya Toko Kopi Aroma. Kalau anda termasuk orang yang tidak suka ‘mainstream’, boleh coba yang satu ini: Toko Kopi  Javaco di Jalan Gardujati Kebon Jati 69. Dilihat dari gedungnya yang bergaya arsitektur Art-Nouveau, toko ini bisa dipastikan lebih tua dari Toko Aroma, dan dalam kenyataannya telah lama menjadi langganan bagi  sejumlah warung kopi  di Bandung. Posisinya yang sangat dekat dengan gerbang selatan Stasiun Bandung membuatnya sangat mudah ditemukan, apalagi dengan kondisi bangunan yang meskipun tua, namun relatif masih terjaga, terutama balkon dan kaca patrinya yang sangat indah. Bagian dalam bangunan ini pun terhitung masih orisinal, dengan lantai dari ubin berpola, meja kaca dari kayu jati, serta deretan mesin-mesin penggiling kopi dan timbangan tahun 20-an yang nampaknya masih berfungsi dengan baik.

Lantas bagaimana dengan kopinya sendiri?

IMG_2061Terus terang sebenarnya saya bukanlah coffee-afficionados yang bisa membedakan berbagai jenis kopi dengan sekali sesap, meskipun 2-3 cangkir kopi sehari sudah menjadi kebiasaan dan kini sedang ngidam berat teko Bialetti Mukka Express yang seksi itu. Yang saya tahu cuma kopi Arabica dan Robusta, giling kasar dan halus.  Jadi saat Encim Pemilik Javaco yang ramah merekomendasikan tiga bungkus kopi khas Javaco: Melange, Tip-top, dan Arabica (nah, kalau yang ini terdengar tidak asing), saya berusaha terlihat tegar sebagai ahli kopi dan dengan penuh percaya diri memesan ketiganya, masing-masing dalam kemasan 1 ons bergaya ‘tempo doeloe’. Harganya? Saya lupa pastinya, berhubung saya sibuk menjaga citra sebagai pecinta kopi, tapi kalau tidak salah antara Rp. 7000 – 12.000 per ons. Harga yang wajar untuk kopi asli tanpa campuran.

OK. Lantas bagaimana dengan rasanya?

IMG_2062Secara pribadi, saya memandang dunia per-kopi-an kini sudah mencapai tahapan ‘baroque’ atau bahkan ‘rococo’. Teknik kini menjadi lebih penting daripada isi. Itulah sebabnya saya terus terang tidak pernah nyaman memesan kopi di Starbuck karena segala pertanyaan tentang campuran rasa dan topping itu membuat saya nampak bodoh dan kampungan. Meskipun saya yakin pasti ada cara khusus yang rumit untuk membandingkan kopi a la-barista, saya memutuskan untuk membandingkannya dengan cara yang bisa dibuat orang awam seperti saya: diseduh air panas, dengan sedikit pilihan: dengan atau tanpa susu (bubuk), dengan atau tanpa gula.

Bagaimana hasilnya?

IMG_2069Untuk kopi Arabica, terus terang saya tidak melihat bedanya dalam hal rasa, meskipun dalam hal wangi jenis Arabica dari Javaco ini punya aroma panggang yang lebih kuat. Jenis Tip-Top, menurut saya, terasa lebih ‘halus’, tidak terlalu pahit dibanding kedua jenis kopi lainnya; mungkin itu sebabnya jenis ini menjadi favorit warung-warung kopi langganan Javaco. Tapi kopi yang menjadi favorit saya untuk dicampur dengan susu adalah jenis Melange. Jenis ini punya aroma ‘rubbery’ (karet) dan rasa pahit yang kuat, sehingga ketika diminum begitu saja, rasanya mungkin tidak menjadi favorit semua orang. Namun begitu dicampur dengan susu, rasa dan aroma ini terasa bercampur dengan begitu pas sekali.  Hanya kopi Kalosi yang sepengalaman saya punya karakter yang sama dengan jenis Melange ini; kebanyakan merk dan jenis kopi, rasa dan aromanya biasanya ‘menghilang’ begitu bercampur dengan rasa gurih susu dan manis gula.

Tentu saja lidah dan kesukaan orang berbeda-beda. Agar anda bisa setuju dengan pendapat saya diatas, satu-satunya cara adalah dengan mencoba sendiri jenis-jenis kopi produk Javaco ini. Ingat: pengetahuan yang luas mengenai kopi adalah sebuah pembuka perbincangan (conversation-starter) yang baik di dunia internasional. Jadi ketika anda melihat ada jenis ‘Mandhileeng’ (Mandailing) dari Tibet, anda bisa mengoreksinya langsung ke counter sang barista; siapa tahu anda bisa berteman. Lain kali ke Starbuck, anda bisa memesan kopi ‘decaf, quad, grande, three-pump mocha, non-fat, extra hot, with cinnamon sprinkles Dolce Latte’ dengan penuh percaya diri.

 

Tagged with: ,
Posted in blog, Toko Khusus

Toko Alat Cukur ‘Fen’

20130307_142911
20130307_142539

Beberapa merk pisau cukur yang dijual di Toko Fen. Harganya bervariasi, mulai dari 30 ribu (kiri), 75 ribu (kanan), sampai pisau seharga 110 ribu rupiah yang saya beli.

Sebagai pria yang dianugrahi lebih banyak jenggot dan cambang daripada rambut, saya pun lebih banyak menggunakan silet daripada sisir. Saya tahu ada banyak jenis alat cukur, tapi bilah silet konvensional menurut saya termasuk paling higienis karena paling mudah dibersihkan. Namun akhir-akhir ini benda satu ini mulai menghilang dari peredaran toko-toko besar, digantikan oleh produk-produk baru dengan berbagai macam klaim ‘keistimewaan’.

Sayangnya, produk-produk baru ini buat saya tidaklah lebih baik: pisau ganda (atau bahkan lapis tiga) yang ditanam permanen membuat pisaunya sulit dibersihkan, dan karenanya harus diganti setiap dua minggu karena berkarat, padahal harganya bisa tiga-empat kali bilah silet biasa. Lebih parah lagi, banyak diantara kepala pisau baru ini tidak kompatibel dengan gagang pisau yang lama, sehingga kita sering terjebak membeli kepala pisau yang keliru atau harus rela mengganti gagang lama.

20130307_142911

Bagian luar toko Fen, Jl. ABC no. 1, terletak persis di mulut jembatan penyebrangan menuju Mall Pasarbaru.

Selain sulit dicari, pisau silet konvensional yang biasa saya pakai pun memunculkan permasalahan lain: cara membuang. Saya selalu merasa khawatir jika membuang pisau silet bekas, karena bisa melukai orang lain. Saya selalu membungkus silet ini dalam beberapa lapis kertas dan plastik sebelum membuangnya, tapi tetap saja perasaan khawatir itu masih ada. Karena alasan itulah, saya punya rencana membeli pisau cukur konvensional yang bisa dilipat. Kebetulan Kang Abi, seorang kontributor website ini, pernah memberitahu saya sebuah toko khusus yang menjual pisau dan alat cukur di depan Mall Pasarbaru (lihat peta ‘Toko Khusus’).

Mencari Toko ‘Fen’ ini rupanya tidaklah sulit, karena lokasinya persis berada di mulut jembatan penyeberangan di depan Mall Pasarbaru yang ramai. Ada papan nama kecil bertuliskan “Toko Fen –  Jual alat-alat cukur, gunting, benang dll” yang mudah terlihat jika berjalan kaki menyusuri trotoar. Di depan toko ini ada tukang asah tradisional yang menggunakan papan asah dan batang bambu sebagai pegas, bukannya mesin asah mirip gerinda seperti yang biasa kita lihat sekarang.

20130307_142743

Si Mang ahli asah. Segala jenis pisau bisa diasahnya; disini beliau sedang mengasah mata pisau mirip sisir dari alat cukur elektronik yang biasa dipakai di salon.

Selain pisau cukur, Toko Fen ini juga menjual berbagai macam pisau dapur maupun pisau penyintas (survival knife). Sementara untuk pisau cukur, saya diberi tiga pilihan seharga 30 ribu, 75 ribu, dan 110 ribu. Dari segi penampilan, saya sebenarnya lebih suka pisau bergagang polos seharga 30 ribu; namun mengingat ini benda yang ‘vital’ saya akhirnya memilih pisau seharga 110 ribu dengan gagang berpola kotak-kotak. Pisau ini terasa lebih kokoh dan dilengkapi kotak. Plus, ada korting dari Engkoh penjual yang ramah seharga 10 ribu!

20130307_142326

Interior Toko Fen. Ada plang nama kecil di depan tokonya. Anda yang menggunakan motor atau mobil mungkin sulit melihat plang ini.

Bercukur dengan pisau ini tentunya membutuhkan keahlian khusus. Demikian juga pemeliharaannya. Tapi tenang saja: ada banyak video di Youtube yang memberikan informasi semacam ini. Favorit saya adalah video-video dari user geofatboy yang nampaknya penggila pisau cukur, bahkan punya website sendiri bernama shavenation.com. Jadi untuk anda yang belum pernah menggunakannya, tidak usah khawatir. Percayalah, menggunakan pisau cukur seperti ini membuat anda merasa menjadi pria sejati!

Tagged with: , ,
Posted in blog, Toko Khusus
Protected

2014-04-18 05:33:08